Sabtu, 08 Oktober 2011

PESAN TUHAN For ALAM


Dunia ini diciptakan oleh Tuhan Ynag Maha Kuasa begitu indah dan luar biasa. Di dalam QS. AL Imron ayat 5, yang artinya " Bagi Allah tidak sesuatupun yang tersembunyi di bumi dan di langit", dijelaskan bahwasanya semua makhluk hidup saling bergantung dan mempunyai cirri khas tersendiri, baik makhluk hidup maupun tak hidup, Allah lah yang menyusun bumi hingga menjadi sesuatu yang harmonis, dan yang mengatur segala sesuatunya. Hanya saja, bumi ini sekarang telah dan tidak seimbang lagi, hal ini lebih didominasi oleh perilaku manusia yang serakah dan pandai bersyukur, seperti yang tertera di dalam QS. Ibrahim ayat 7, yang berbunyi "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu engingkari (nikmat - KU) maka sesungguhnya azabku sangat berat". Akan tetapi, manusia tidak mau bersyukur dan malah mengeksploitasi hasil bumi hingga keseimbangan alam in terganggu, dan yang lebih parah lagi, banyaknya pencemaran di alam yang menyebabkan suhu dibumi menjadi panas dan kepunahan dari beberapa macam spesies makhluk hidup. Padahal di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi ini, sehingga manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga bumi ini dari kerusakan dan ketidakseimbangan.

EMBUN DI MATAKU


“Hati-hati ya mba”, tutur Ulum adik angkatanku sambil merangkul tubuhku.
“Iya, kamu juga hati-hati, tolong bilang sama teman-temanmu yang lain, mba minta maaf tidak pamit dulu sama kalian. Insya Allah dua minggu lagi mbakyu pulang ke sini” ucapku sambil menyalaminya.
Udara pagi terasa menusuk tulang, kesegarannya menyeruak masuk kedalam jiwaku hanya saja semua itu tidak bisa membuatku tenang. Ku teringat dengan simbah dan adik di Pemalang. Ku coba mengingat Sang Pencipta dalam dzikir dan doa untuk menenangkan hati, sambil menungu bus menuju Pemalang, kota kelahiran yang selalu ada direlung hati yang terdalam. Terkenang masa lampauku ketika berangkat ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, aku rela meninggalkan sahabatku, keluargaku, terutama mak dan bapak. Ku termenung.
Anganku melayang
Menyusuri jalanan masa silam
Ku di tengah  kehangatan canda tawa
Di bawah naungan kasih sayang
Kini ku harus lalui jurang terjal tak bertepi
Serpihan Kristal dan duri kehidupan yang slalu menanti
Demi sebuah cita
Senyum manis bunda tercinta

"Pemalang………!"  "Pemalang………!"
Teriakan seorang kernet bus membuyarkanku dari lautan masa lalu. Ku langkahkan kaki menuju bus dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Penumpang bus memang tidak begitu padat, mungkin karena hari masih pagi. Kubuka mushaf dan mulai membacanya, kini ku tengah terhanyut dalam indahnya kalam Ilaahi. Kubaca satu persatu sambil menghayatinya, hatiku sudah mulai tenang setelah tiga malam sebelumnya aku bermimpi nenek dan adik kecelakaan, dan membuatku gelisah dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswi, kakak, tentor, sekaligus tulang punggung bagi keluargaku, yang hanya adik dan nenek. Kakek yang tak pernah ku ketahui wajahnya.Ayah  tengah bertemu Sang Pencipta ketika aku masih sekolah dasar, dan ibu menyusul tiga tahun kemudian.
Sejak itulah  aku dan adik  yang masih sekolah dasar menjadi yatim piatu dan hidup bersama nenek. Aku dan adik mulai belajar bekerja, dari jual sayur hasil kebun nenek hingga membantu nenek di kebun. Kuterbiasa hidup dengan diselimuti kabut dan itu membuatku menjadi orang yang berwatak baja.
Pemalang……! Pemalang…!
Kuterbangun dan kaget oleh suara kernet, ternyata kalam Ilaahi telah membuatku tertidur pulas. Kusegera bergegas turun dari bus dan menaiki angkot. Sampai di rumah sepi sekali. Perlahan kuketuk pintu, tak ada jawaban, kucoba membukanya ternyata tidak dikunci.
Uhuk….uhuk…uhuk….
Suara batuk simbah mulai terdengar setelah kumembuka pintu yang tidak terkunci. Kuberlari bergegas menuju kamar simbah. Di sana ada adikku Farid yang menyuapi simbah.
“Assalamu’alaikum……”  sapaku sambil menahan tangis.
“Wa’alaikumussalam…..”, jawab adikku yang meraih tanganku dan merangkulku. Air mata pun pecah dan tak terbendung lagi. Butiran air mata sebagai wujud rasa rindu, karena sudah dua tahun tak bertemu, sedang air mataku tumpah karena sedih memandang adik yang kurus dan nenek yang sangat pucat.
“Dik, primen kabare?”, tanyaku.
“Alhamdulillah mbak yu, mbak balik ko ra ngomong-ngomong sih, yen ngomong kan aku bisa siap-siap bersihna kamar nggo sare mbak yu” jawab adikku sambil mengusap butiran embun dari kelopak matanya.
“Iya, mba kangen ngomah, kelingan adik karo simbah putri”.
Kulangkahkan kaki dan duduk di samping simbah sambil menggantikan adik menyuapi simbah. Tubuhnya tidak sesegar delapan tahun  yang lalu, rambutnya berubah menjadi tipis dan ubannya memenuhi kepala, butiran embun mengalir di pipi yang sudah keriput termakan usia.
Uhuk…..uhuk……
“May, koe kok balik, ora apa-apa yen ninggalna kuliah karo kerjamu?” Tanya simbah sambik berbatuk-batuk.
“Sudahlah mbah, jangan memikirkan itu, aku kangen dengan rumah apa simbah tidak suka melihat aku pulang?”
“Bukan begitu, simbah hanya sungkan simbah tidak mau mengganggu kuliah dan kerjamu nduk”. Ungkap simbah dengan bahasa Pemalang.
“Mbah, jangan terlalu memikirkan May, semuanya baik-baik saja kok. Warung makan May Alhamdulillah dibanjiri pembeli malah sudah menambah dua karyawan, kuliah May juga baik-baik saja. Sekarang, yang terpenting kesehatan simbah. Besok pagi ke dokter ya mbah, sekarang simbah istirahat.
Kubereskan piring bekas makan simbah. Kulangkahkan kaki menuju dapur. Di sana adikku Farid sedang merebus air. Adik tidak menyadari kehadiranku, kutatap Farid lekat-lekat. Wajahnya tak seperti dulu lagi, aku merasa ada yang ganjil dengan adik. Kutepis pikiran aneh yang merasuk ke dalam jiwaku. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku, benar atau tidak, kucoba yakinkan diri kalau adik baik-baik saja. Karna tidak berhati-hati, piring yang kubawa jatuh.
"Prang…..!" adik terkejut dan menatapku heran.
“Astaghfirullah….., mbakyu hati-hati”.
Kutersenyum dan menatapnya.
“Dik, mba mau ngomong sama kamu, tapi sebelumnya mba minta maaf”, kataku dengan hati-hati.
“Iya mbak, ada apa to?”
“Begini……..”
Belum sempat kata-kata itu diteruskan, adik meninggalkanku dengan setengah berlari meuju kamar simbah, aku mengikutinya. Suara smbah yang memanggil aku dan adik, terdengar sayup-sayup di sela-sela batuknya yang  tak kunjung sembuh.
“Rid….May….sini nduk tutur simbah dengan nafas terengah-engah.
“Iya mbah, ini Farid dan di samping Farid ada mbak yu”, sahut Farid yang sudah duduk di samping simbah berbaring.
“Nak, simbah minta maaf ya, atas semua salah dan khilaf yang simbah perbuat. Simbah selalu merepotkan kalian. Simbah hanya bisa menjadi beban, simbah minta maaf”.
“Mbah, kami tidak merasa direpotkan, bahkan tak pernah terlintas di pikiran kami kalau simbah itu beban bagi kami. Simbah adalah orang tua kami”, ucap Farid sambil menyeka air mata.
“Iya mbah, benar apa yang dikatakan dik Farid, kami juga minta maaf atas semua salah kami”, tambahku.
“Setelah ini simbah tidak akan merepotkan kalian, simbah minta maaf” tutur simbah di tengah isak kami.
Kata-kata simbah bagaikan angin yang menghembuskan awan dan menjadikannya hujan. Butiran bening tak terbendung lagi membentuk hulu sungai di pipi.
“Simbah minum jamu dulu ya, ini sudah Farid buatkan jamu”, kata adik.
Tak ada sahutan simbah, hanya diam dan membisu. Kubaringkan tubuh simbah setengah duduk tetapi tak ada sambutan juga, hatiku mulai ragu. Kuraih tangan yang sudah keriput sambil memanggil namanya, nadinya sudah tak berdetak lagi, dadaku sesak kuyakinkan diri kalau aku bisa kuat. Kuseka butiran embun yang berebut keluar. Kucoba tersenyum walau hatiku perih. Kususun kata-kata untuk menyampaikannya pada adik yang menatapku penuh khawatir.
“Mbakyu, simbah kenapa? Simbah ndak pa pa to, simbah baik-baik aja kan mbak yu?”, Tanya adik dengan berlinang air mata.
“Dik, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, itu adalah hukum Allah, tak ada yang bisa menyangkal. Begitu juga dengan kita, kita bertemu dengan simbah, hidup bersama pada saatnya semua akan berpisah dan sekarang Allah telah memanggil simbah. Allah lah yang Maha Kuasa kita hanya makhluk Allah”, ucapku dengan senyum menahan tangis. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.

Dua minggu setelah meninggalnya simbah, ku ajak adik ke Widuri. Di sana adik mulai mau banyak bicara setelah dua minggu ini adik banyak diam. Aku maklumi sikap adik  yang begitu, adik merasa sangat terpukul kehilangan simbah, begitu juga aku hanya saja, adik lebih dekat dengan simbah karena aku yang harus merantau ke Yogyakarta untuk kuliah dan bekerja. Ku akui aku dan adik hanyalah manusia biasa yang tak bisa terus-menerus tegar dan sabar.
“Mbak, mbakyu pen mangkat aring Jogja kapan?”
Patang dina maning dek, kowe ora pa-pa kan tak tinggal?”
Dia menatap lautan sambil mengangguk pelan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang dewasa lebih awal karena kehidupan yang dilaluinya, kini ku teringat percakapan yang terputus. Percakapan yang terjadi sebelum simbah meninggal.
“Dik, mbak yu mau tanya jawab dengan jujur ya dik”, kataku hati-hati.
Ngopo to mbak yu?’
“Sebelumnya mbakyu minta maaf, sejak mbakyu pulang dan melihatmu mbak yu merasa ada yang mengganjal. Mbak yu sudah coba untuk yakinkan diri kalau kamu baik-baik saja, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.”
“Memangnya ada apa mbak yu? katakan saja”
“Dik, apa benar kamu sudah mengenal nikotin?”, tanyaku ragu.
Adik tidak menjawab perkataanku, dia masih menatap lautan, ku tunggu jawaban dari adik, tapi yang ada hanya kebisuan. Adik masih terdiam, ku pandang lekat-lekat wajahnya, hatiku berontak ingin tahu sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Sebuah jawaban.
“Dik, mbakyu sangat membenci kebohongan”, suaraku memecah keheningan diantaraaku dan adik.
“Maafkan Farid mbak yu, Farid sudah mengecewakan mbak yu, adik tidak bisa menjadi adik yang mbak yu harapkan” jawabnya sambil menunduk.
Seketika dadaku sesak, butiran bening itu membasahi pipiku. Ku tak mampu berkata, ku merasa menjadi kakak yang paling buruk di dunia, bahkan lebih buruk dari itu, aku tak bisa menjaganya. Pesan mama semasa  masih hidup terngiang di kepala bahwa ku harus menjaga adik dalam keadaan bagaimanapun juga. Kini aku telah  gagal menjadi panutan bagi adikku.
Tetes air mata kecewa
Tengah menganak sungai
Saat ku tau
Kau telah masuk dalam perangkap
Perangkap yang membuatku tak mengenalimu
Kau begitu jauh
Bahkan tak terjangkau bagai langit dan bumi
Sesal selalu menghantuiku
Hatiku remuk
Harapanku tandas
Bagai tanah terbawa air
Aku bukanlah panutanmu
Aku tak bisa menjagamu
Hingga kau kini terpelosok
Tetes air mata
Kini berubah menjadi haru
Kau telah bersimpuh
Memohon ampun
Kepada yang  Maha Luas
Suara gemericik selalu ada di tengah malam mu
Tuk temui Sang Permadani

                                                                                                                       

SANGGUPKAH AKU?


 Tersadar
semua jalan miliki jeruji
slamanya tak sama,,,
stiap jalan terpilih miliki batu sandung
slamanya lain,,,

saat bunga mekar terasa harum
dan saat tlah layu hilang sudah harumnya
                                   
                                    Haruskah dusta?
                                    Tak perlu..
                                    Sudah saja tuk rasakan manis gula
                                    Terasa pahit, kadang..
                                    Tekankan jiwa rasakan manis slalu
                                    Angan dan jiwa…
                                    Berpadu tuk raih manisnya gula
                                    Keharusan,,,
                                    Sanggupkah aku?
           




                                            

CUKUP KEDUA SAJA


“Rat, gimana nilai geografimu?”
“alhamdulillah... 90, kamu berapa?”
“aku dapet 100, nilaiku memang lebih tinggi dari nilaimu..tapi entah kenapa aku mrasa sbenarnya nilai kamu lebih tinggi dari aku...” ungkap Esti,
“ah...kamu ni ada-ada saja.... hhe, biasa sajalah.. kamu memang lebih hebat dari aku kok.. aku akuin itu.. maaf.maaf. aku lupa ngucapin slamat.. kamu pringkat 1 ulangan MID semester kemaren ya... wah, dapet silverquen dari Bu Lina ni... jangan lupa bagi-bagi ya...” jawabku asal ketika ditanya Esti, teman sekelasku slama sekolah di MAN Yogyakarta III, mungkin Allah memang telah menakdirkan aku dan Esti satu kelas selama 3 tahun ini.
“rat, aku mau tanya.. kenapa kamu slalu mengalah sama aku? aku mrasa persaingan kita gak seimbang...karna kamu jelas-jelas slalu mengalah...kamu sengaja menyalahkan jawabanmu ketika ulangan...kamu sengaja pura-pura tak tau ketika ditanya guru..dan kau slalu melemparkan ke aku.. sebenernya ada apa sih? Jawablah, ratri.... kenapa?” tanya esti tanpa memberiku kesempatan terlebih dahulu tuk menjawab satu persatu,
“hemm...iya,...........” belum selesai aku bicara, guru Pkn masuk kelas kami, waktu itu memang jadwal beliau mengajar kelas kami,
Jelas sekali kulihat kekecewaan dalam raut muka esti ketika bu Sri, guru Pkn kami datang..bukan karna dia belum mengerjakan tugas, karna dia memang anak paling rajin dikelas kami, dia kecewa tapi lebih karna belum sempat aku jawab tanyanya, bu sri sudah masuk kelas. Berbeda dengan aku, aku sangat senang bu sri datang tepat pada waktunya..beliau bagaikan pahlawan yang menolong sang tawanan dari sarang penjahat.

                        “nanti jangan lupa jawab pertanyaanku ya, tolonglah..” bisik esti tepat disampingku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya itu bukanlah pertanyaan yang pertamakalinya esti tanyakan ke aku... dia hampir tiap hari slalu menanyakan itu, hingga sekarang ketika kita hampir lulus SMA.
                        “ting!!..ting!!!...teng!!!...teng!!!..ting!!!..teng!!!!???!.........”
            Bunyi bel tanda pembelajaran hari ini telah selesai berbunyi dengan nyaringnya... konon katanya, itu adalah suara yang paling ditunggu oleh siswa yang memang malas sekolah...entahlah, itu benar atau tidak..seringkali akupun meragukan kebenaranya..
                        “hey!!? ratri......”
            “ada apa est? kamu memanggilku?” ucapku sambil menghentikan langkah kakiku,
            “kenapa sih, kamu selalu menghindar ketika aku bertanya tentang ketidakseimbangan persaingan kita...kamu slalu mengalah untuk ku.. kenapa? Jujur, awalnya aku tak menyadari itu..tapi sejak aku diskusi denganmu dan kamu lebih tau banyak dari aku...kamu tau apa yang aku tidak tau ratri...aku sangat yakin itu, kenapa kamu menyembunyikan itu?kenapa kamu tak menjawab dengan jujur ketika ditanya bu sri tentang amandemen?padahal aku tau kamu bisa menjawabnya..karna sebelumnya, kita memang telah diskusi...kenapa?”
aku tak tau harus menjawab apa...hanya senyum dan kata maaf yang dapat kuucapkan.. ku tinggalkan esti yang hanya dapat berdiri membisu melihatku pergi tanpa menjawab pertanyaanya... air matanya meleleh, barangkali aku memang tak seharusnya begini... maafkan aku esti... aku tlah menyakiti temanku sendiri... esti, dia kini tlah menyadarinya... perkataan esti, membuat anganku terbang ke masa yang tlah terlewat...  


Delapan tahun silam...adalah masa dimana aku masih sekolah di tingkat SD kelas 5, saat itu aku mendapat peringkat 1 dikelas, sedang adik sepupuku, mail namanya mendapat peringkat 2, awalnya aku sangat senang...karna dengan peringkat satu, aku ayah akan membelikan apapun yang aku minta...tetapi, setelah sadar melihat raut muka adik, kebahagiaanku menghilang begitu saja...
“kak, slamat ya...dapat peringkat 1, kakak sekarang telah lebih segalanya dari aku, kakak memang bisa semuanya...aku ingin seperti kakak, dulu aku pikir, kakak memang bisa mengalahkanku dalam segala hal, tapi tidak untuk dalam hal sekolah... tapi sekarang, kakak telah membuktikan  kakak memang hebat! Slamat ya kak,”  ucap adik sambil tersenyum dan memelukku.
Entah kenapa...mataku basah... dadaku sesak... aku tak dapat berkata apa-apa, dalam benakku hanya satu... aku telah membuat adik sedih... aku membuat adik kecewa... aku egois sekali..hanya memikirkan kesenangan sendiri saja tanpa memikirkan adik... aku mrasa menjadi kakak yang sangat jahat...
“kakak nangis? Pasti kakak terharu ya...saking senengnya jadi nangis...” ucap adik tetap dengan senyuman khasnya...walau aku tau, sebenarnya adik tengah kecewa...
                        “iya...kakak terharu...makasih ya dek...” berusaha ku tersenyum, walau air mata tetap tak terbendung ladi........
            Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak meraih peringkat 1, peringkat 1 hanya milik adik, bukan untukku.. dulu adik memang slalu mendapat peringkat 1 dan aku peringkat 2, saat penerimaan laporan hasil belajar adik slalu bilang “kakak memang lebih segalanya..tapi tidak untuk dalam hal sekolah... hehehe” dan aku hanya bisa menjawab kata-kata adik... “iya, adiku memang yang terhebat!!!...”



            Semangat adik untuk berkompetisi perlahan mengendor...kelas 6 adik mendapat peringkat 3 setelah aku...yang mendapat peringkat 1 adalah temanku aisyah, ketika ku tanya kenapa adik seperti tidak semangat mendapat peringkat 1 lagi, adik mengatakan bahwa sebenarnya aku memang lebih segalanya dari adik sejak dulu dan sampai kapanpun.... dulu memang adik selalu peringkat 1, tapi itu karna kakak mengalah untuk adik.. kakak sengaja agar mendapat peringkat 2 sedang adik mendapat peringkat 1... adik bisa dapat peringkat 1 karna kakak.... trimakasih kak, kakak sudah memberiku kesempatan merasakan senangnya dapat peringkat 1....
“rat, kamu kenapa? Jalan kok sambil nglamun.... hayo, mikirin sapa?...” teriak temanku kumala,
“hah....iya, gak papa kok... hemm..........” jawabku tergagap karna kaget,
“kamu kenapa sih, kok tak liatin dari tadi sepertinya serius sekali... ada apakah gerangan? Tanya kumala sambil menyelidik penasaran,
“emm... gak papa kok, aku hanya sedang berfikir...kapan yah, kita bisa pergi bareng ke pantai parangtritis naik sepeda? Ucapku asal,
“yaelah....pecinta alam sejati.... kemana-mana naek sepeda... duluan ya... aku mau ngerjakan tugas, assalamualaikum!...”
“waalaikumussalam....”
Teringat lagi akan adik... entah kenapa tiba-tiba rasa rindu menyeruak kedalam jiwaku... aku rindu adik, besok aku janji akan menelpon adik.. sudah lama aku tidak menelpon adik.. lulus SD, aku memang sengaja sekolah ditempat yang berbeda dengan adik...aku tak mau kejadian itu terulang lagi... akan tetapi, barangkali karna prasaan trauma dan telah menjadi kebiasaan mengalah...sampai sekarang aku membenci peringkat 1... aku menjadi merasa sangat bersalah jika aku mendapat nilai tertinggi atau apapun...yang berhubungan dengan yang nomor satu... tapi kini aku sadar, dengan sikapku yang seperti ini yaitu selalu mengalah dan pura-pura tak tau akan membuat orang lain kecewa dan tersakiti...seperti teman sekelasku esti... kini dia telah menyadarinya.... maafkan aku esti dan maafkan aku Ya Allah....... aku berjanji akan belajar untuk menghilangkan traumaku... aku memang harus belajar untuk bisa menempatkan diri... tetapi, untuk saat ini, ijinkan aku untuk menjadi yang kedua saja...cukup kedua saja....